Selasa, 09 Maret 2010

Model Pembelajaran Helen Parkhust

MODEL PENGAJARAN DALTON (HELEN PARKHUST)

A. BIOGRAFI TOKOH
Helen Parkhust dilahirkan pada tahun 1887 di Amerika. Tahun 1904, ia menjadi guru di sebuah sekolah yang memiliki satu ruang kelas besar dengan jumlah murid 40 orang. Murid-murid di sekolah tersebut berbeda-beda tingkatan sehingga terdapat 8 kelas yang berkumpul dalam satu ruangan. Pengajaran kadang-kadang dilakukan secara klasikal untuk murid yang berbeda satu tingaktan kelasnya sedangkan yang lain mengerjakan tugas secara mandiri. Dalam kondisi ini ruangan kelas menggambarkan seperti ruangan laboratorium anak-anak sehingga Helen Parkhust menyebutnya sebagai ”Laboratorium Plan”.
Pada tahun 1913, Helen berkenalan dengan Montessori serta memperoleh berbagai penjelasan tentang sekolah Montessori. Pada tahun 1914, ia untuk memutuskan untuk mempelajari sekolah Montessori tersebut di Itali. Setelah meletusnya perang dunia pertama, Helen mengungsi ke Amerika bersama Montessori. Di Amerika Helen menjadi murid sekaligus asisten Montessori untuk mengembangkan pendidikan di Amerika. Dan ia semakin tahu keunggulan dan kelemahan sistem pendidikan Montessori. Menurut anggapannya, Montessori terlalu menekankan pengajaran individual sehingga murid-murid kurang mendapatkan kesempatan untuk bersosialisasi. Dengan mempertimbangkan kelemahan tersebut maka pada tahun 1919, ia mencoba konsep pendidikannya untuk anak cacat dan sekolah menengah di kota Dalton. Keberhasilannya mengembangkan pendidikan tersebut memberikan nama ciri pendidikan Helen Parkuhust sebagai ”The Dalton Plan”.

B. PANDANGAN DASAR TENTANG PENDIDIKAN
Pandangan dasar Helen Parkhust tentang pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempo dan irama perkembangan sendiri-sendiri. Dengan demikian seorang anak akan menguasai berbagai bahan pengajaran tanpa merasa terhambat oleh keunggulan dan kelemahan anak yang lain. Namun, tetap memberikan kemungkinan untuk berintraksi, bersosialisasi dan mengerjakan bersama dan bekerja secara mandiri untuk tugas tertentu.
2. Kegiatan pengajaran harus mrupak keterpaduan anatara bentuk klasikal dan bentuk kegiatan individual.
3. Setiap tugas yang diberikan memberikan kemerdekan dan kebebasan untuk mengerjakannya. Namun, tertib dan terjadwal membuat target dalam pencapaian setiap tugasnya.

C. IMPLIKASI MODEL PENDIDIKAN DALTON
Sebagai suatu model khas, model pendidikan Dalton banyak memiliki perbedaan dengan model pendidikan Montessori. Hal ini merupakan suatu keunggulan tersendiri bagi model tersebut mengingat penciptannya (Helen Parkhust) cukup intensif melihat kelebihan dan kelemah model pendidikan Montessori. Beberapa gambaran pelaksanaan model pendidikan Dalton dapat diungkapkan sebagai berikut :
1. Ruangan Kelas
Ruangan kelas yang luas tetapi dipergunakan untuk memberikan pengajaran klasikal. Ruangan kelas besar dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil disebut dengan ruangan vak atau sentra-sentra. Ruangan klasikal dipergunakan untuk menjelaskan hal-hal umum, pengetahuan pokok yang sukar dipahami anak secara individual. Sementara ruangan vak atau sentra terdiri atas satu mata pelajaran atau bidang pengembangan. Ada ruang vak ilmu bumi, ilmu alam, berhitung, membaca dan sebagainya.

2. Guru
Guru harus seorang ahli yang menguasai dan mencintai vak bidang studi masing-masing. Setiap guru akan memberikan penjelasan secara umum pada murid-murid yang mengunjungi vak bidang studi sesuai dengan pokok bahasan yang secara umum dipelajari murid-murid. Selain itu juga, guru harus menguasai perkembanagan setiap murid dalam mengerjakan berbagai tugas sehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap murid dalam menguasai bahan-bahan pengajaran.

3. Bahan dan Tugas
Bahan pengajaran setiap vak secara umum terdiri dari bahan minimal dan bahan tambahan. Bahan minimal merupakan bahan pengajaran yang harus dikuasai setiap murid dan merupakan target kemampuan minimal. Sedangkan bahan tambahan merupakan pengembangan atau pengayaan dari bahan pengajaran minimal tersebut. Namun demikian bahan tambahan dapat diberikan ke seluruh murid apabila bahan minimal benar telah dikuasai dengan tempo yang telah ditentukan.

4. Murid dan Tugasnya
Setiap murid akan memperoleh tugas dan penjelasan secara garis besar dalam bentuk pengajaran klasikal tentang bahan pengajaran pada suatu vak atau bidang studi. Murid bebas memilih mana yang ingin dipelajari terlebih dahulu dan bebas menentukan waktu penyelesaian serta alat-alat yang dipergunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Untuk mengembangkan sosiabilitas, guru memperbolehkan murid-murid mengerjakan tugas tertentu secara bersama-sama. Hanya saja tidak boleh mengerjakan bahan atau tugas saling meniru satu sama lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar