Selasa, 09 Maret 2010

Model Pembelajaran Helen Parkhust

MODEL PENGAJARAN DALTON (HELEN PARKHUST)

A. BIOGRAFI TOKOH
Helen Parkhust dilahirkan pada tahun 1887 di Amerika. Tahun 1904, ia menjadi guru di sebuah sekolah yang memiliki satu ruang kelas besar dengan jumlah murid 40 orang. Murid-murid di sekolah tersebut berbeda-beda tingkatan sehingga terdapat 8 kelas yang berkumpul dalam satu ruangan. Pengajaran kadang-kadang dilakukan secara klasikal untuk murid yang berbeda satu tingaktan kelasnya sedangkan yang lain mengerjakan tugas secara mandiri. Dalam kondisi ini ruangan kelas menggambarkan seperti ruangan laboratorium anak-anak sehingga Helen Parkhust menyebutnya sebagai ”Laboratorium Plan”.
Pada tahun 1913, Helen berkenalan dengan Montessori serta memperoleh berbagai penjelasan tentang sekolah Montessori. Pada tahun 1914, ia untuk memutuskan untuk mempelajari sekolah Montessori tersebut di Itali. Setelah meletusnya perang dunia pertama, Helen mengungsi ke Amerika bersama Montessori. Di Amerika Helen menjadi murid sekaligus asisten Montessori untuk mengembangkan pendidikan di Amerika. Dan ia semakin tahu keunggulan dan kelemahan sistem pendidikan Montessori. Menurut anggapannya, Montessori terlalu menekankan pengajaran individual sehingga murid-murid kurang mendapatkan kesempatan untuk bersosialisasi. Dengan mempertimbangkan kelemahan tersebut maka pada tahun 1919, ia mencoba konsep pendidikannya untuk anak cacat dan sekolah menengah di kota Dalton. Keberhasilannya mengembangkan pendidikan tersebut memberikan nama ciri pendidikan Helen Parkuhust sebagai ”The Dalton Plan”.

B. PANDANGAN DASAR TENTANG PENDIDIKAN
Pandangan dasar Helen Parkhust tentang pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempo dan irama perkembangan sendiri-sendiri. Dengan demikian seorang anak akan menguasai berbagai bahan pengajaran tanpa merasa terhambat oleh keunggulan dan kelemahan anak yang lain. Namun, tetap memberikan kemungkinan untuk berintraksi, bersosialisasi dan mengerjakan bersama dan bekerja secara mandiri untuk tugas tertentu.
2. Kegiatan pengajaran harus mrupak keterpaduan anatara bentuk klasikal dan bentuk kegiatan individual.
3. Setiap tugas yang diberikan memberikan kemerdekan dan kebebasan untuk mengerjakannya. Namun, tertib dan terjadwal membuat target dalam pencapaian setiap tugasnya.

C. IMPLIKASI MODEL PENDIDIKAN DALTON
Sebagai suatu model khas, model pendidikan Dalton banyak memiliki perbedaan dengan model pendidikan Montessori. Hal ini merupakan suatu keunggulan tersendiri bagi model tersebut mengingat penciptannya (Helen Parkhust) cukup intensif melihat kelebihan dan kelemah model pendidikan Montessori. Beberapa gambaran pelaksanaan model pendidikan Dalton dapat diungkapkan sebagai berikut :
1. Ruangan Kelas
Ruangan kelas yang luas tetapi dipergunakan untuk memberikan pengajaran klasikal. Ruangan kelas besar dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil disebut dengan ruangan vak atau sentra-sentra. Ruangan klasikal dipergunakan untuk menjelaskan hal-hal umum, pengetahuan pokok yang sukar dipahami anak secara individual. Sementara ruangan vak atau sentra terdiri atas satu mata pelajaran atau bidang pengembangan. Ada ruang vak ilmu bumi, ilmu alam, berhitung, membaca dan sebagainya.

2. Guru
Guru harus seorang ahli yang menguasai dan mencintai vak bidang studi masing-masing. Setiap guru akan memberikan penjelasan secara umum pada murid-murid yang mengunjungi vak bidang studi sesuai dengan pokok bahasan yang secara umum dipelajari murid-murid. Selain itu juga, guru harus menguasai perkembanagan setiap murid dalam mengerjakan berbagai tugas sehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap murid dalam menguasai bahan-bahan pengajaran.

3. Bahan dan Tugas
Bahan pengajaran setiap vak secara umum terdiri dari bahan minimal dan bahan tambahan. Bahan minimal merupakan bahan pengajaran yang harus dikuasai setiap murid dan merupakan target kemampuan minimal. Sedangkan bahan tambahan merupakan pengembangan atau pengayaan dari bahan pengajaran minimal tersebut. Namun demikian bahan tambahan dapat diberikan ke seluruh murid apabila bahan minimal benar telah dikuasai dengan tempo yang telah ditentukan.

4. Murid dan Tugasnya
Setiap murid akan memperoleh tugas dan penjelasan secara garis besar dalam bentuk pengajaran klasikal tentang bahan pengajaran pada suatu vak atau bidang studi. Murid bebas memilih mana yang ingin dipelajari terlebih dahulu dan bebas menentukan waktu penyelesaian serta alat-alat yang dipergunakan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Untuk mengembangkan sosiabilitas, guru memperbolehkan murid-murid mengerjakan tugas tertentu secara bersama-sama. Hanya saja tidak boleh mengerjakan bahan atau tugas saling meniru satu sama lainnya.

Rencana Pembelajaran Tematik

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)

Nama Sekolah : SDIT AS-SYIFA
Mata Pelajaran : Matematika
IPA
IPS
Kelas / semester : 1 / 1
Hari, tanggal : 15 Februari 2010
Alokasi waktu : 7 Jam pelajaran ( 1 jam pelajaran 35 menit )
Tema : Makanan

Standar Kompetensi :
Matematika : Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 20
IPA : Mengenal anggota tubuh dan kegunaannya, serta cara perawatannya
IPS : Memahami identitas diri dan keluarga, serta sikap saling menghormati dalam

Kompetensi Dasar :
Matematika : Membilang banyak benda. mengurutkan banyak benda dan menyebutkan bilangan 1-20
IPA : Membiasakan hidup sehat
IPS : Menunjukkan sikap hidup rukun dalam kemajemukan keluarga

Indikator :
Matematika : Membilang banyak benda 1 sampai 20
IPA : Menyebutkan ciri-ciri hidup sehat
IPS : Menyebutkan ciri hidup rukun dalam keluarga

I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat :
- Membilang banyak benda dari 1 sampai 20
- Membedakan banyak benda dari dua kumpulan dari 1 sampai 20
- Menjelaskan arti hidup bersih
- Menyebutkan ciri-ciri hidup bersih
- Membiasakan untuk selalu hidup bersih
- Menjelaskan arti hidup rukun
- Memberikan ciri hidup rukun dalam keluarga
- Membiasakan diri selalu hidup rukun dalam keluarga
II. Materi Belajar
Membilang banyak benda 1 – 20 ( Matematika)
Hidup sehat ( IPA )
Hidup rukun dalam keluarga ( IPS )
III. Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah
- Ceramah
- Tanya jawab
- Latihan
- Bermain peran
IV. Media dan Sumber Belajar
Media yang dipakai dalam pembelajaran ini :
Angka bilangan 1 samapi 20
Gambar anak sedang melakukan kebersihan di kelas
Gambar keluarga yang sedang berkumpul
Sumber belajar yang di pakai :
Buku paket Matematika kelas 1 untuk SD penerbit Yudhistira
Buku paket IPA kelas 1 untuk SD penerbit Yudhistira
Buku paket IPS kelas 1 untuk SD penerbit Yudhistira
Buku paket panduan pembelajaran Tematik terbitan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

V. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan awal
- Guru mengkondisikan kelas sebelum pembelajaran.
- Berdo’a dan salam.
- Absensi kelas.
- Guru menyampaikan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran hari ini.
- Appersepsi pelajaran.
2. Kegiatan inti
- Guru mengadakan tanya jawab tentang lembaga-lembaga yang berada di desa pada siswa.
- Guru menjelaskan lembaga-lembaga yang berada di tingkat desa beserta fungsi dari lembaga tersebut
- Guru mengadakan tanya jawab kembali kepada siswa tentang lembaga yang berada di tingkat desa kepada siswa.
- Guru meminta siswa untuk malakukan simulasi tentang kegiatan di desa.
- Guru meminta siswa untuk berkelompok menjadi tiga kelompok dan memilih sentra yang diinginkan tanpa ribut. (Sentra IPA, IPS dan Matematika)
- Siswa memperhatikan guru menjelaskan tugas yang harus di laksanakan pada setiap sentra.
- Sentra Matematika mengerjakan latihan soal bilangan 1sampai 20.
- Sentra IPA menjawab apa arti bersih dan ciri-ciri hidup bersih dari lembar soal yang telah di sediakan.
- Sentra IPS, mengerjakan latihan yang berdasarkan materi hidup rukun.
3. Kegiatan akhir
- Guru bersama menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari
- Guru mengadakan tanya jawab mengenai materi yang telah dipelajari
- Mengkondisikan kelas
- Berdo’a dan salam
VI. Penilaian
Tes tulis : Mengerjakan latihan pada setiap mata pelajaran yang telah
disediakan oleh guru
Cikarang, 15 Februari 2010

Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Kelas


Hj. Nani, S.Ag Nunu Diati

Rabu, 06 Januari 2010

Contoh Proposal

A. LATAR BELAKANG
Belajar merupakan suatu proses kegiatan, dimana melibatkan terjadinya perubahan pada seseorang yang sedang belajar. Perubahan yang terjadi ketika belajar sedang berlangsung memberikan suatu aspek yang terarah, yaitu terkadang menimbulkan suatu perubahan cita-cita bahkan memperkuat cita-cita tersebut. Jika perubahan tersebut mengubah cara berpikir maka akan melibatkan perubahan dalam tujuan dan arah kehidupan. Tetapi bagaimana dengan permasalahan anak yang memiliki kesulitan belajar?.
Dewasa ini banyak sekali adanya kecenderungan kasus meningkatnya permasalahan belajar anak di sekolah. Para guru maupun orang tua banyak mengeluh bahwa anak didiknya mengalami gangguan proses belajar-mengajar di kelas.
Salah satu masalah belajar yang sering dijumpai di sekolah – sekolah khususnya pada anak usia dini dan Sekolah Dasar (SD) yaitu learning difficulties adalah kelompok learning disabilities (LD), Specific Learning Difficulties (SLD) atau DMO. Kelompok anak ini bukan tidak mampu belajar tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya "tidak siap belajar".
Anak berkesulitan belajar (LD) adalah individu yang mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar, disfungsi sistem syarat pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan yang nyata dalam pemahaman dan penggunaan pendengaran, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi, tetapi dapat muncul secara bersamaan.
Kelompok anak LD dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, intersensory, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, body image, dan konsep diri. Sedangkan menurut Hammil dan Myers (1975) meliputi gangguan aktivitas motorik, persepsi, perhatian, emosionalitas, simbolisasi, dan ingatan. Sedangkan ditinjau dari aspek akademik, kebanyakan anak LD juga mengalami kegagalan yang nyata dalam penguasaan keterampilan dasar belajar, seperti dalam membaca, menulis dan atau berhitung.
LD dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari yang terbelakang mental, rata-rata, sampai yang berinteligensi tinggi. Sejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh kaliber dunia seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Leonardo da Vinci, Winston Churcill, dan Nelson Rockefeller, awalnya juga dikenal sebagai penyandang LD (Osmon, 1979; Mulyono Abdurrahman, 1994). Secara teoretis prevalensi penyandang LD berkisar antara 3-10 persen dari populasi anak usia sekolah (Schwartz, 1984; Hallahan, 1985).
Kemampuan intelektual dapat berpengaruh luas terhadap berbagai kemampuan manusia, terutama dalam prilaku belajarnya. Sementara itu Shwartz (1984) menegaskan bahwa dua masalah utama yang dihadapi anak LD adalah masalah akademik dan masalah pribadi-sosial. Berdasar ini diduga kuat bahwa paduan antara keunggulan intelektual yang dimiliki dan kesulitan belajar yang dihadapi dapat melahirkan karaktersitik sendiri yang berbeda dengan anak-anak LD pada umumnya.
Secara potensial, anak LD yang memiliki inteligensi di atas rata-rata adalah sumber daya manusia unggul bagi pembangunan bangsa dan negara. Karena itu seyogyanya mereka mendapat perhatian yang lebih serius dalam upaya mengatasinya. Namun demikian, dalam praktek pendidikan di lapangan, khususnya di sekolah dasar, sangat mungkin terjadi guru mengalami berbagai kesulitan dalam membantu siswanya yang termasuk LD.
Dalam kaitannya dengan sistem pendidikan di sekolah dasar, guru merupakan ujung tombak dalam membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para siswanya, termasuk permasalahan yang dihadapi anak LD yang memiliki kemampuan intelegensi di atas rata-rata. Diduga kuat bahwa pemahaman guru sekolah dasar terhadap karakteristik anak berkesulitan belajar kelompok learning disability (LD) masih sangat rendah. Akibatnya, mereka belum mendapatkan layanan bimbingan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Pada hal prevalensinya cukup tinggi dan banyak di antara mereka yang memiliki inteligensi di atas rata-rata. Oleh sebab itu guru dan orang tua membutuhkan suatu informasi yang jelas mengenai permasalahan belajar tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas maka STAI BANI SALEH bermaksud melaksanakan seminar “Penanganan Anak Berkesulitan Belajar”.

B. TUJUAN KEGIATAN
1. Membantu para orang tua dan guru mengenali anak yang mengalami kesulitan belajar.
2. Memberikan pemahaman pada orang tua dan guru untuk memperlakukan anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan masalahnya.

C. NAMA DAN TEMA KEGIATAN
Nama Kegiatan : Seminar ”Penanganan Anak Berkesulitan Belajar”
Tema Kegiatan : ”Anak Yang Sulit Belajar Pun, Bisa Menjadi Anak Yang Sukses”

D. BENTUK KEGIATAN
Adapun bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu seminar.

E. PENGISI ACARA
1. Moderator : Drs. Bahrudin, M.Pd
2. Pemberi Sambutan Bupati Bekasi, Sa’adudin, M.M
3. Narasumber :
a. Lara Fridani, M.Psych ( Edu & Dev)
S-2 Master Psikologi Jurusan Pendidikan dan Perkembangan,
Lulusan Monash University, Melbourne Australia
b. Drs. Marja, M.Pd
Kandidat Doktor Pendidikan Luar Biasa (PLB), Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

F. PESERTA
Dalam kegiatan ini, kami tidak hanya mengkhususkan kepada guru atau mahasiswa saja. Tetapi, para orang tua yang juga mengalami kesulitan dalam memberikan bimbingan belajar selama berada di rumah.

G. PENYELENGGARA
Kegiatan seminar ini diselenggarakan oleh BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA (BEM) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BANI SALEH KAMPUS B, CIKARANG.


H. JADWAL DAN LOKASI KEGIATAN
Pelaksanaan kegiatan Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari : Minggu
Tanggal : 28 Juni 2009
Waktu : 09.00 s/d selesai
Tempat : RESTORAN SAMI KURING KHAS JAWA-SUNDA
JL. Raya Industri No. 2 Cikarang
(Samping Carrefour Cikarang)

I. SUSUNAN ACARA
09.00-09.30 : - Pembukaan
- Pembacaan ayat suci Al-Qur’an
- Sambutan dari Bupati Bekasi
09.30-11.30 : Materi dari Marja M.Pd
- Identifikasi Anak yang Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar.
11.30-12.00 : Door Price dan hiburan
12.00-12.30 : ISOMA ( Istirahat Sholat dan Makan)
12.30-14.30 : Lara Fridani, M.Psych (Edu & Dev)
- Penanganan Anak Berkesulitan Belajar dan Solusinya
14.30-15.00 : Penutup dan Do’a

J. SUSUNAN PANITIA
Terlampir.

K. RENCANA ANGGARAN
Terlampir.

L. PAKET SPONSORSHIP
Terlampir.

M. LEMBAR PENGESAHAN
Terlampir.

N. PENUTUP
Demikian rencana kegiatan seminar “ Penanganan Anak Berkesuliatan Belajar “, dengan harapan semoga acara ini berjalan lancar dan sukses sesuai dengan yang telah diprogramkan. Amin.



Lampiran 1
PANITIA KEGIATAN
Mengetahui : 1.Drs. Hapidin, M.Pd
(Ketua STAI Bani Saleh)
2. Drs. Endang Wahyudiana
(Puket Bidang Kemahasiswaan STAI Bani Saleh)
Penanggungjawab : Yuli Pujianti, S.Pd
Ketua : Henika
Sekretaris : Siti Maesaroh
Bendahara : Nunu Diati
Seksi Acara : 1. Iin Inayah
2. Otih Hotimah
Seksi Humas : 1. Titik Ambarwati
2. Nurlaela Fitriyani
3. Nurhasanah
4. Fachny
5. Mohammad Roziki
Seksi Konsumsi : 1. Juhaeriyah
2. Yurini Triyauhani
Seksi Logistik dan Dekorasi : 1. Tika Dyiah Swastika
2. Nurhasanah
3. Mumun Mukaromah
Seksi Dokumentasi : 1. Lestari
2. Yati


Lampiran 2
RENCANA ANGGARAN
Kesekretariatan : Rp. 200.000,00
Spanduk : Rp. 1.000.000,00
Narasumber : Rp. 3.000.000,00
Konsumsi : Rp. 4.375.000,00
Snack : Rp. 750.000,00
Seminar Kids : Rp. 1.500.000,00
Transportasi : Rp. 300.000,00
Sertifikat : Rp. 1.000.000,00
Dokumentasi : Rp. 100.000,00
Hiburan : Rp. 300.000,00
Lain-lain : Rp. 627.000,00
Jumlah : Rp.13.177.000,00



Lampiran 3
PAKET SPONSORSHIP
1. Pilihan Berbagai Jenis Sponsor

Perusahaan yang akan berpartisipasi dalam Seminar Pendidikan Penanganan Anak Belajar dapat memilih beberapa pilihan paket sebagai berikut :
1. PAKET SPONSOR TUNGGAL
2. PAKET GRAND SPONSOR
a. Paket Platinum Rp 11.850.000;
b. Paket Gold Rp 9.880.000;
c. Paket Silver Rp 6.588.000;

3. PAKET IN-KIND SPONSOR
Publication tools :
Kegiatan sponsorship ini menggunakan media publikasi seperti:
- Pemasangan Banner
- Name Tag
- Spanduk
- Media dalam kegiatan
Manfaat kegiatan sponsorship :
- Merupakan media promosi yang efektif dengan penampilan logo pihak sponsor pada media publikasi.
- Wujud tanggung jawab sosial terhadap pendidikan anak.

2. Prosedur Pembayaran

Para sponsor diwajibkan melakukan pembayaran ke rekening : BCA KCP Lippo Cikarang 5220597913 a.n Nunu Diati.


3. Kontraprestasi sponsor tunggal

Sponsor tunggal artinya bersedia membiaya keseluruhan acara. Kontraprestasi sponsor tunggal bentuknya dapat disesuaikan dengan kesepakatan keduabelah pihak. Semua media publikasi yang disediakan panitia tidak akan mencantumkan pihak lain selain panitia dan pihak sponsor tunggal.

4. Kontra Prestasi Grand Sponsor
Rincian kontraprestasi Grand Sponsor
N0 Model Iklan Platinum
Rp 11.850.000; Gold
Rp 9.880.000; Silver
Rp 6.588.000
1. 4 Spanduk Large Logo Medium Logo Small Logo
2. Name Tag Panitia
(20 pcs) Large Logo Medium Logo Small Logo
3. Spanduk Perusahan* 3 buah 2 buah 1 buah
4. Umbul-umbul* 5 buah 2 buah -

Keterangan :
* disediakan sendiri oleh perusahaan yang mensponsori kemudian lokasi pemasangan dipasang oleh panitia

5. Sponsor In-Kind

Kontraprestasi sponsor in-kind diberikan oleh panitia sesuai dengan nilai nominal yang diberikan oleh pihak sponsor. Sponsor in-kind ini dapat berupa pemberian materi yang dibutuhkan oleh panitia ataupun berupa penggantian ongkos kegiatan bagi materi yang disampaikan.

Jenis Sponsor In-Kind Minimum Sumbangan

Menyediakan snack (360 buah) Minimal 180 buah
Bingkisan Produk (360 buah) Minimal 180 buah

6. Dana sponsorship dapat dilunasi secara langsung atau dalam dua tahap sebagai berikut :
a. 75% dari nilai kontrak dilunasi pada saat penandatanganan kontrak.
b. 25% sisanya dilunasi paling lambat 3 hari setelah rangkaian acara selesai.

7. Pembatalan Kerjasama
* Oleh pihak perusahaan
a. Uang tahap I menjadi milik panitia
b. Pembayaran pelunasan, maka 75% dana menjadi milik panitia
* Oleh pihak panitia
a. Dana dikembalikan sebesar yang telah diterima pihak panitia











PROMOTIONAL DAN DESAIN
1. Promotional Tools
Seluruh produksi desain dari materi promosi kegiatan dilakukan pihak panitia. Panitia tidak menutup kemungkinan bagi pihak sponsor untuk memproduksi sendiri materi promosinya. Jika pihak sponsor menambah iklan atau alat promosi lainnya, pengaturananya dan penempatan materi promosi merupakan kewenangan panitia.

2. Desain Material

Spanduk 4 buah

















NAME TAGE


























FORMULIR-FORMULIR
Chek List Konfirmasi Partisipasi Dengan Mengisi Formulir
Berikut ini kami Lampirkan :

1. Nama Organisasi :
2. Alamat :
3. Telepon :
4. Fax :
5. Website Address :

Telah melakukan pengembalian check list partisipasi yang diikuti dalam acara Penanganan Anak Berkesulitan Belajar dengan mengembalikan beberapa formulir yang telah diisi, yaitu

No. JENIS FORMULIR YANG TELAH DIISI Beri
√ Tanggal Pengembalian
1. Formulir Partisipasi sebagai Grand Sponsor
2. Formulir Partisipasi sebagai In-Kind Sponsor











1. Formulir Partisipasi sebagai Grand Sponsor
Bersama ini saya bersedia turut serta dalam kegiatan Penanganan Anak Berkesulitan Belajar dengan rincian data sebagai berikut :
1. Nama Organisasi :
2. Alamat :
3. Telepon :
4. Fax :
5. Website Address :
Kami aka turut dalam kegiatan ini sebagai Grand Sponsor, dengan rincian sebagai berikut :
PAKET Bayar Lunas sebelum Bayar Lunas Sebelum Total Rupiah
Platinum
Gold
Silver
TOTAL

Kami akan melakukan pembayaran ke Rekening : BCA KCP Lippo Cikarang 5220597913 a.n Nunu Diati dan semua bukti pembayaran di Fax ke (021) 89116181 serta melakukan konfirmasi pembayaran melalui telepon ke (021) 89116181.

Terima Kasih



Tertanda Nama Dan Cap Organisasi

2. Formulir Partisipasi sebagai In-Kind Sponsor
Bersama ini saya bersedia turut serta dalam kegiatan Seminar Penanganan Anak Berkesulitan Belajar dengan rincian data sebagai berikut :
1. Nama Organisasi :
2. Alamt :
3. Telepon :
4. Fax :
5. Website Address :
Kami akan turut dalam kegiatan ini sebagai In-Kind Sponsor, dengan rincian sebagai berikut :





Kami akan melakukan pembayaran ke : Rekening BCA KCP Lippo Cikarang 5220597913 a.n Nunu Diati dan semua bukti pembayaran di Fax ke (021) 89116181 serta melakukan konfirmasi pembayaran melalui telepon ke (021) 89116181.

Terima Kasih



Tertanda Nama dan Cap Organisasi


Lampiran 4
LEMBAR PENGESAHAN

Ketua Pelaksana Sekretaris


Henika Siti Maesaroh
NIM : 2073210065 NIM : 2073210077


Mengetahui
Ketua BEM STAI BS


Mohammad Roziki
NIM : 2073210086

Penanggung Jawab


Yuli Pujianti, S.Pd


Mengetahui,

Ketua STAI BANI SALEH PUKET BID. KEMAHASISWAAN


Drs. Hapidin, M.Pd Drs. Endang Wahyudiana

Sabtu, 01 Agustus 2009

Makalah Identifikasi Anak Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar

Identifikasi Anak Berkesulitan Belajar di Sekolah Dasar
Oleh : Marja, M.Pd

A. Latar Belakang
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan tertentu, tetapi kelainan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar). Gangguan kesulitan belajar (learning disabilities/ LD) merupakan salah satu
permasalahan yang banyak ditemui dalam dunia pendidikan. LD menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas.
Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.
Menurut Hallahan et al (dalam Abdurahman, M, 1999) jumlah anak berkesulitan belajar meningkat secara dramatis. Hallahan dan Kauffman (1988) mengungkapkan bahwa prevalensi LD sangatlah bervariasi, dari 1% hingga 30%. Secara umum, prevalensi kesulitan belajar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Prevalensi anak kesulitan belajar pada sekolah umum di Amerika Serikat pada tahun 1976-1977 sebesar 1,8 % (Lyon, dkk., 2001). Hallahan dan Kauffman (1988) mengemukakan bahwa menurut US Department of Education, 4,73% populasi usia sekolah mengalami kesulitan belajar pada tahun 1985-1986. Lyon, dkk. (2001) menyebutkan bahwa pada tahun 1997-1998, prevalensi kesulitan belajar mencapai 5,2%. Hal ini setara dengan yang dikemukakan oleh Graziano (2002) bahwa pada tahun 1996 diperkirakan 5-6% anak sekolah usia 6 hingga 18 tahun di Amerika Serikat mengalami kesulitan belajar.
Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dari 3.215 murid kelas satu hingga kelas enam SD di DKI Jakarta, terdapat 16,52% siswa yang dinyatakan sebagai murid berkesulitan belajar oleh guru (Abdurrahman, M, 1999). Penelitian sebelumnya oleh Balitbang Dikbud dengan menggunakan instrumen khusus dalam peneitian di empat provinsi pada 1996 dan dilaporkan 1997, menemukan bahwa terdapat sekitar 10 % anak mengalami kesulitan belajar menulis, 9 % mengalami kesulitan belajar membaca, dan lebih dari 8 % mengalami kesulitan berhitung. Di samping itu, diketahui pula bahwa 22 % anak berkesulitan belajar mempunyai intelegensi tinggi, 25 % sedang dan 52 % kurang.
Dari pemaparan di atas jelas terlihat bahwa LD merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siswa, dengan prevalensi yang cenderung meningkat. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya kemampuan siswa dalam menguasai tujuan belajar yang harus dicapainya, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kualitas hasil belajarnya. Sebagai akibatnya adalah adanya kendala dalam kelancaran proses belajar. Banyak siswa yang mengulang disebabkan karena mereka mengalami LD secara akademis.






B. Fokus Permasalahan
Fokus permasalahan ini berkenaan dengan ”Identifikasi siswa LD di SD”, yang akan mengembangkan dan menjawab pertanyaan berikut ini:
1. Bagaimanakah hakikat dari LD?
2. Instrumen dan patokan apakah yang digunakan untuk menjaring dan menyaring siswa berkesulitan belajar di SD?


C. Hakikat Individu Berkesulitan Belajar
1. Definisi LD
Untuk mengembangkan pemahaman terhadap LD, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai LD, yaitu:
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problem belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi. (USOE; United States Office of Education, 1977)

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu (misalnya gangguan sensoris, tunagrahita, hambatan sosial dan emosional) atau berbagai pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat, faktor-faktor psikogenik), berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung. (NJCLD; National Joint Committee on Learning Disabilities, 1981)

Dari dua pendapat tersebut, memiliki beberapa persamaan yang berkenaan dengan:
a. Kemungkinan adanya disfungsi neurologis
b. Adanya kesulitan dalam tugas-tugas akademik
c. Adanya kesenjangan antara prestasi dengan potensi
d. Adanya pengeluaran dari sebab-sebab lain;
1) LD tidak termasuk & disebabkan oleh MR (keterbelakangan mental, tunarungu, tunanetra,dsb)
2) LD tidak dikategorikan & disebabkan oleh faktor-faktor yg berasal dari luar diri individu.


2. Klasifikasi Kesulitan Belajar
LD diklasifikasikan menjadi dua, yaitu Kesulitan belajar pra-akademik (perkembangan) dan Kesulitan belajar akademik.
Kesulitan belajar pra-akademik / perkembangan (developmental learning disabilities), berkenaan dengan;
Kesulitan dalam berbahasa; Gangguan bahasa reseptif dan gangguan bahasa ekspresif.
Kesulitan dalam berperilaku sosial & emosional; Kesulitan dalam memahami konsep diri, labilitas emosional, kekurangan dlm keterampilan sosial, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan gangguan aktivitas motorik. Gangguan perseptual; Gangguan perseptual visual, gangguan perseptual auditoris, dan gangguan perseptual visual-motor, taktial, dan kinetetik.
Kesulitan belajar kognitif; Gangguan penggunaan operasi mental melalui ingatan, gangguan dalam melihat hubungan-hubungan, gangguan dalam membuat generalisasi, gangguan asosiasi, dan gangguan berpikir konseptual.
Kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities);
Kesulitan belajar membaca; Kesulitan belajar membaca permulaan dan kesulitan belajar membaca pemahaman.
Kesulitan belajar menulis; Kesulitan belajar menulis dengan tangan, kesulitan belajar mengeja, dan kesulitan belajar komposisi.
Kesulitan belajar matematika; Kesulitan belajar konsep matematika dan kesulitan belajar komputasi matematika.
3. Prevalensi anak berkesulitan belajar
a. Terkait erat dengan definisi yang digunakan karena alat identifikasi dan asesmen untuk menentukan prevalensi didasarkan atas definisi tertentu.
b. Prevalensi anak usia sekolah yang berkesulitan belajar membentuk rentang dari 1%-30%

D. Identifikasi LD di SD
1. Proses Pembelajaran dan Anak Berkesulitan Belajar
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
d. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
e. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa
yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya
kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
a. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
b. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
c. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang
mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat
menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
Tujuan pendidikan
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah
satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar.
Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai.
Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.
Kedudukan dalam Kelompok
Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih
jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.
Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah
mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut
dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah,
sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.
Perbandingan antara potensi dan prestasi
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat
potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya.
Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.
Kepribadian
Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.
2. Diagnostik mengatasi kesulitan belajar
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau
yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya.
Tes dignostik kesulitan belajar sendiri dilakukan melalui pengujian dan
studi bersama terhadap gejala dan fakta tentang sesuatu hal, untuk menemukan karakteristik atau kesalahn-kesalahan yang esensial. Tes dignostik kesulitan belajar juga tidak hanya menyangkut soal aspek belajar dalam arti sempit yakni masalah penguasaan materi pelajaran semata, melainkan melibatkan seluruh aspek pribadi yang menyangkut perilaku siswa.
Tujuan tes diagnostik untuk menemukan sumber kesulitan belajar dan
merumuskan rencana tindakan remidial. Dengan demikian tes diagnostik sangat penting dalam rangka membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan dapat diatasi dengan segera apabila guru atau pembinbing peka terhadap siswa tersebut. Guru atau pembimbing harus mau meluangkan waktu guna memerhatikan keadaan siswa bila timbul gejala-gejala kesulitan belajar.
Agar memudahkan pelaksanaan tes diagnostik, maka guru perlu
mengumpulkan data tentang anak secara lengkap, sehingga penanganan kasus akan menjadi lebih mudah dan terarah.
3. Mengidentifikasi Anak Berkesulitan Belajar
Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan
belajar;
a. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang
diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun
khusus dalam bidang studi.
b. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian
dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat
penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar
mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui
kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list.
e. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan
guru pembimbing.


E. Penutup
Kesulitan dalam pembelajaran atau belajar merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik, terutama guru. Sebagai upaya untuk memberikan layanan pembelajaran yang tepat, maka sebelumnya perlu adanya proses identifikasi (menemu-kenali). Hal tersebut menjadi penting, karena jumlah anak berkesulitan belajar cenderung meningkat dari tahun ke tahun, yang terjadi di tingkat sekolah dasar.


Daftar Pustaka
Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja
Rosda Karya
Daniel P. Halahan & James M. Kaufman, Exceptional Children - 9th Edition, Massachuset: Allyn & Bacon, 1994
Janet Lerner, Learning Disabilities - 9th Edition, Boston: Houghton Mifflin Company,, 2000
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Depdikbud RI, 2003
Sunardi, dkk, Menangani Kesulitan Belajar Membaca, Jakarta: Depdikbud RI, 1997
Lampiran:

Format (umum) dalam Identifikasi LD
Perilaku Umum dan Ruang Kelas (beri tanda () pada tempat yang sesuai)

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Dapat bekerja sendiri
2. Dapat bekerja dalam kelompok
3. Mudah terganggu
4. Mudah letih
5. Terlalu aktif
6. Dapat menunggu dan melakukan giliran
7. Sering tidak masuk sekolah
8. Ikut serta dalam diskusi kelas
9. Menyimak dengan penuh perhatian
10. Mematuhi peraturan sekolah
11. Menyelesaikan pekerjaan rumah
12. Menyelesaikan tugas tepat waktu
13. Lamban bekerja
14. Mengajukan pertanyaan kepada guru
15. Berdiam diri selama waktu belajar
16. Meninggalkan tempat duduk tanpa permisi
17. Berbicara tanpa permisi
18. Melakukan tidakan merusak

Bahasa: Kemampuan Mendengar dan Berbahasa Lisan

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Mendengarkan instruksi
2. Mampu mengulang instruksi
3. Melaksanakan instruksi yang diberikan
4. Kelihatan tidak memahami bahasa
5. Berbicara dengan jelas dan dapat dimengerti
6. Sukar berbicara to the point
7. Sulit menemukan kata-kata yang tepat





Bahasa Tulisan :

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Mengeja dengan akurat
2. Mengeja secara ponik
3. Reverses letters
4. Menggunakan tanda baca dengan benar
5. Menyusun ide menjadi kalimat dan alinea yang bermakna
6. Tulisan “cakar ayam”
7. Menghindari pekerjaan menulis
8. Berbicara jauh lebih baik daripada menulis

Membaca : Persepsi penglihatan, identifikasi kata, dan analisis.

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Membaca alfabet
2. Mencocokkan huruf
3. Mengenali huruf
4. Meniru huruf
5. Menggunakan kemampuan ponik
6. Menggunakan analisis struktural
7. Menggunakan isyarat konteks kalimat
8. Kosa kata pandang (sight vocabulary)

Membaca Lisan :

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Membaca dengan cepat
2. Membaca dengan lancar
3. Membaca dengan semangat
4. Sering membaca
5. Memperbaiki kesalahan sendiri






Membaca Pemahaman :

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Memahami gagasan/ide pokok
2. Mengidentifikasi rincian
3. Mengidentifikasi kajadian-kejadian yang berurutan
4. Menggambar
5. Mengikuti aturan tertulis
6. Mengingat materi

Matematika :

No.
Perilaku Penilaian
Ya Kadang-kadang Tidak Tidak tahu
1. Memahami konsep
2. Mengetahui faktor-faktor nomor dasar
3. Mengetahui tabel perkalian
4. Menunjukkan kemampuan berhitung :
Penambahan
Pengurangan
Pengalian
Pembagian
5. Memahami nilai tempat
6. Dapat menerapkan kemampuan matematika pada;
Uang
Waktu
Pengukuran

Senin, 13 Juli 2009

seminar Penanganan Anak Berkesulitan Belajar














Ini adalah foto-foto saat Seminar Pendidikan Penanganan Anak Berkesulitan Belajar. Acara yang di laksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa STAI Bani Saleh, Kampus B Cikarang. Tempatnya di Restoran Sami Kuring, Cikarang, dengan narasumber
1. Drs. Marja, M.Pd ( Dosen UNJ dan STAI Bani Saleh )
2. Lara Fridani, M.Psych ( Dosen UNJ dan Konsultan Psikologi )
undangan :
1. Ibu Hj. Afiyah Subki ( Pembina Yayasan Bani Saleh )
2. Drs. Hapidin, M.Pd ( Ketua STAI Bani Saleh )
3. Drs. Rusdi, M.Biomed ( Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi )
4. Dosen dan Staf STAI Bani Saleh

Rabu, 24 Juni 2009

Makalah Pendidikan Kewarganegaraan

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Isu pasangan salah satu pasangan capres yang menganut ekonomi neoliberal sangat menyita perhatian para ekonom maupun politikus. Ditambah lagi dengan program ekonomi yang pro rakyat dan lebih di kenal dengan ekonomi kerakyatan juga hangat dibicarakan. Berbagai tanggapan dari masyarakat juga ikut menambah ramai berita ini. Kontroversi ini dapat dikatakan sebagai cara untuk mengalahkan capres dalam pilpres yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Bagaimana sebenarnya neoliberal dan ekonomi kerakyatan itu?

II. Rumusan Makalah

Dalam makalah ini, kami membatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan Neoliberal vs Ekonomi Kerakyatan adalah sebagai berikut :
a. Pengertian Neoliberal versus Ekonomi Kerakyatan.
b. Prinsip-prinsip
c. Peranan Negara
d. Tujuan
e. Ekonomi Indonesia saat ini?

III. Metode Penulisan Makalah

Dalam pembuatan makalah ini kami menggunakan metode :
a. Menggunakan buku sumber yang berkaitan dengan materi
b. Pengumpulan data dan informasi dari berbagai sumber.





BAB II
PEMBAHASAN
NEOLIBERAL vs EKONOMI KERAKYATAN

A. Pengertian

Saat ini dalam masyarakat Indonesia berkembang sebuah wacana Apakah Negara Indonesia telah menganut Sistem Ekonomi Neolliberal atau Ekonomi Kerakyatan. Untuk itu, makalah akan membahas tentang sebenarnya Neoliberalisme dan Ekonomi Kerakyatan itu?
Neoliberlisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal yang mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemierintah dalam ekonomi domistik. Sedangkan, Ekonomi Kerakyatan adalah sebuah system perekonomian yang ditujukan untuk mewjudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi.

B. Prinsip-prinsip

Neoliberal maupun ekonomi kerakyatan tidak semata-mata ada begitu saja tanpa ada pegangan atau tiang sebagai podasi dasar bangunan ekonomi.
Adapun prinsip yang dijadikan sebagai dasar neoliberal adalah sebagai berikut :
a. Pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar.
b. Kepemilikan pribadi terhadap factor-faktor produksi diakui.
c. Pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami.
Sedangkan, dalam ekonomi kerakyatan terdapat 3 prinsip dasar yang harus ada, agar dapat terwujud kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi, diantaranya sebagai berikut :
a. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan .
b. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan mengusai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
c. Bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, maka jelas bahwa negara mempunyai peranan yang berbeda. Namun, perbedaan mencolok antara ekonomi kerakyatan dengan neoliberlisme tersebut tidak terlalu berlebihan bila disimpulkan bahwa ekonomi kerakyatan pada dasarnya adalah antitesis dari neoliberalisme.

C. Peranan Negara

Dalam neoliberal maupun ekonomi kerakyatan Negara mempunyai peran yang berbeda. Hal ini, di sebabkan dari prinsip yang menjadi dasar dalam system perekonomian yang dianutnya.
Peranan Negara dalam ekonomi neoliberal diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk pengahapusan subsidi.
b. Liberalisasi sector keuangan.
c. Liberalisasi perdaganagan.
d. Pelaksanaan privatisasi BUMN.
Neoliberal hanya memberikan keuntungan bagi pihak tertentu saja, sedangkan rakyat tidak dapat menikmati apa yang diperoleh dari ekonomi ini. Ibarat kata, yang kaya makin kaya dan yang miskin tambah miskin. Tentu saja, hal ini tidak sejalan dan sesuai dengan Negara Indonesia yang mempunyai tujuan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi.
Dalam ekonomi kerakyatan, Negara mempunyai peran yang sangat besar, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan koperasi.
b. Mengembangkan BUMN
c. Memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
d. Memenuhi hak setiap warga Negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
e. Memelihara fakir miskin dan anak terlantar.
Namun, dalam era globalisasi, satu Negara tidak mungkin menutup diri dari system perekonomian dunia. Demikian juga Indonesia. Ia terbuka terhadap perkembangan system ekonomi dunia. Tingkat integritas ekonomi nasional dengan ekonomi global sangat penting, karena hal ini merupakan ukuran dari kemampuan ekonomi nasional untuk secara adaptif mengikuti irama dan dinamika pasar internasional.

D. Tujuan

Dengan mengembalikan kepercayaan pada kekuasaan pasar atau perdagangan bebas (pasar bebas), dengan pembenaran mengacu pada kebebasan, maka tujuan neoliberal dapat dikatakan telah berhasil berdiri disuatu Negara. Sulit memang untuk mencari Negara yang benar-benar menggunakan system ini.
Dalam system ekonomi kerakyatan yang konon telah digunakan sejak proklamsi, tujuan yang diharapkan dari penerapan system ini bisa dikatakan tidak berhasil. Dari system ini tujuan yang diharapkan adalah sebagai berikut :
a. Membangun Indonesia yang berdikari secaa ekonomi, berdaulat secara politik, dan kepribadian yang berbudaya.
b. Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
c. Mendorong pemerataan pendapatan rakyat.
d. Meningkatkan efisiensi perekonomian secara nasional.
Untuk mancapai tujuan yang ingin dicapai bukanlah suatu perkara yang mudah, seperti membalikan telapak tangan tetapi memerlukan usaha atau perjuangan yang nyata agar tujuan tersebut bukan sekedar wacana saja.

Setelah dijabarkan di atas, terserah Anda untuk menentukan Apakah Indonesia tidak, atau hampir ataukah sudah menganut Sistem Neoliberlisme atau Ekonomi Kerakyatan…




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tentang Neoliberal vs Ekonomi Kerakyatan kami dapat menyimpulkan :
1. Neoliberalisme adalah suatu paham neoliberal yanhg mangacu pada filosofi ekonomi politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domistik. Sehingga peran Negara hanya seagai pangatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.
2. Ekonomi Kerakyatan adalah system perekonomi yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Sehingga Negara mempunyai peran sangat besar yang dilengakapi oleh Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 33 UUD 1945.

B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan pada pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Hendaknya masyarakat yang telah mengetahui neoliberal dan ekonomi kerakyatan dapat menilai dengan baik mana yang tepat untuk bangsa Indonesia dimasa kini dan masa mendatang,
2. Sebagai generasi muda yang kelak akan membangun Negara tercinta, hendaknya dapat menyikapi isu yang ada dengan pemahaman yang benar.
3. Isu Neoliberal dan Ekonomi Kerakyatan tidak menjadikan diri terbelenggu pada hal itu saja, tapi lebih tanggap untuk menyikapinya.


DAFTAR PUSTAKA


Syarbaini,Syahrial, Aliaras Wahid, H.A Djasli dan Sugeng Wibowo, 2006, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Kewarganegaraan, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Sumarsono, S et all, 2006, Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
www.spi.or.id



Kamis, 04 Juni 2009


Ini keponakanku, namanya reza yang besar namanya rizal.